Jumat, 05 Desember 2008

Terlahir



Ketika anak kami untuk pertama kali melihat terangnya dunia, kami patrikan nama Karang Jimbaran. Dia adalah mata air inspirasi dan samudra spirit kami untuk tegar dalam hidup ini.

Karang, tidak lain adalah sebuah batu yang keras dan kokoh meski setiap hari mendapat terjangan ombak ataupun badai namun tetap tegar. Bagaikan hidup ini, masalah terus menghempas tetapi hanya ketegaran yang membuat hidup terus berlanjut.

Jimbaran, ada dua pengertian. Pertama, kami terinspirasi oleh sebuah naskah yang ditulis oleh Ida Cokorda Mantuk atau Raja Badung yang terakhir. Naskah itu ditulis dengan huruf Bali dan berbahasa Melayu, sebuah naskah yang amat langka dan unik serta sarat pesan multikulturalisme. Isinya tidak kalah menarik karena memberikan pandangan hidup yang berjiwa satria, dan tulisan ini juga disebut syair Menyongsong Perang. Perang yang dimaksud adalah PUPUTAN BADUNG 1906. Kedua, Pantai Jimbaran merupakan tempat kami melarung ari-arinya.